kalor laten

frozen

Bayangkan eksperimen seperti berikut. Anda memiliki sebongkah es dengan suhu -20 derajat Celsius. Es tersebut Anda panaskan terus menerus sehingga suhunya pun naik, -19, -18, dan seterusnya hingga akhirnya mencapai suhu 0 derajat Celsius.

Akan tetapi setelah itu, apabila kita tetap memberikan panas terus menerus, maka kita akan menemukan bahwa suhu es tersebut tidak naik lagi, tidak berubah dan tetap di 0 derajat. Secara makroskopik pun kalau dilihat dengan mata telanjang mungkin tidak terlihat perubahan apa-apa. Dia tetap terdiam angkuh seakan kalor atau energi yang kita berikan hilang, tidak terpakai, terbuang sia-sia…

Akan tetapi kalau kita perhatikan lebih dalam ke level mikroskopik maka kita akan mendapati  bahwa molekul-molekul es tersebut sedang berusaha untuk melepaskan dirinya dari ikatan antar molekul satu sama lain agar dapat berubah wujud. Kalor yang digunakan untuk sebuah zat dapat berubah wujud dari satu fase ke fase berikutnya ini disebut kalor laten. Laten sendiri berarti tersembunyi, seperti yang biasa di pakai di frase bahaya laten komunis atau latent variable models.

Maka jika kita tidak berhenti memberikan kalor kepada es tersebut, terus diberikan usaha, niscaya suatu saat es tersebut pasti akan berubah wujudnya ke fase berikutnya, menjadi cair. Dan kita setelah itu kita terus memberikannya kalor, maka suhunya pun akan terus naik, dan naik, dan naik hingga saat perubahan bentuk berikutnya…

==========================================================================

Cerita di atas aslinya saya karang di tempat pada waktu hari perpisahan teman lab saya dulu (Halo Big). Sebenarnya ini terinspirasi setelah mendengarkan presentasi creative machine di kampus beberapa hari sebelumnya yang menggunakan istilah yang sama untuk menggambarkan progres dari computational arts. (Mungkin cocok juga untuk menggambarkan progres dari neural network ya, yang adem ayem beberapa dekade lalu langsung melesat tajam bagai meteor).

dancing_salesman_problem
Dancing Salesman Problem: salah satu karya dari komputer tersebut.

Sifat kalor laten tersebut saya analogikan seperti manusia. Terkadang kita merasa bahwa kita tidak mengalami perbaikan, tidak bertambah jago di bidang yang kita tekuni meskipun telah menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk menguasainya. Tidak ada hasil yang dicapai, tak ada prestasi yang diraih. Akhirnya kita merasa semua yang kita lakukan itu sia-sia belaka dan tidak ada artinya. Menyerah karena putus asa dan kehilangan harapan.

Tapi percayalah, seperti partikel es di 0 derajat, semua tenaga yang diberikan itu digunakan agar kita naik ke tahap selanjutnya. Jangan berhenti memberi usaha, jangan berhenti memberi tenaga untuk lebih baik lagi. Karena setelah lewat dari jatah kalor laten yang harus diberi, maka progres kita pun akan kembali melesak terus hingga kita menemui fase perubahan wujud selanjutnya.

Walau mungkin fase laten dari manusia jauh lebih banyak dari benda mati (yang dulu mungkin cuma didefinisikan 3 (padat, cair, gas) walau sekarang sudah bertambah plasma dan Bose-Einstein condensate).

Salam super.

Iklan

tantangan

annapurna

Alkisah, di suatu negeri yang tidak jauh letaknya dan di masa yang tidak terlalu berbeda, hiduplah seorang karyawan berusia paruh baya. Karyawan ini tinggal bersama keluarganya yang terdiri dari 1 istri, 2 anak, laki-laki dan perempuan, serta kedua orang tuanya. Ia selalu merasa bahwa rumah yang ditinggalinya itu sempit sekali dan sangat penuh sesak dengan keluarganya. Hal ini membuatnya merasa bahwa hidupnya sangat tidak enak dan tidak nyaman. Ia pun suka mengeluhkan keadaannya  ini kepada teman-temannya.

Salah satu temannya kemudian menyarankannya untuk menemui seorang pertapa bijak yang tinggal di lereng gunung, untuk meminta petunjuk dan nasihat. Karena merasa sudah muak dan hampir putus asa, maka ia pun menuruti nasihat temannya dan berangkat untuk menemui guru bijak tersebut.

Sesampainya di rumah guru tersebut, ia pun segera menceritakan keadaannya kepada pertapa bijak itu. Setelah mendengarkan cerita karyawan tersebut dengan seksama, orang bijak itu pun berkata, “Peliharalah ayam di dalam rumahmu, kemudian kembalilah setelah satu minggu.” Karyawan itu terbelalak, mukanya tercengang, tidak mempercayai suara yang didengarnya. Namun karena nyaris putus asa, dan membaca review bagus orang-orang yang pernah ditolong guru bijak tersebut di sebuah forum internet, ia pun beranjak pulang meski pikirannya masih penuh tanda tanya. Meskipun enggan, ia tetap menuruti perintah dari sang guru.

Setelah satu minggu karyawan tersebut kembali menemui sang guru bijak. Mukanya pucat seakan baru disiksa sebagai tawanan perang. Alih-alih prihatin kepada kondisi baru karyawan ini, sang guru malah berkata “Sekarang peliharalah kambing di dalam rumahmu. Datang kembali ke sini setelah satu minggu.” Sang karyawan hanya bisa terkejut, lalu melangkah gontai untuk pulang.

Satu minggu kemudian sang karyawan datang kembali dengan muka hampa, tatapannya kosong. “Sekarang pelihara jugalah seekor sapi di dalam rumahmu.” Ujar sang guru. “Pulanglah, kemudian datang kembali 1 minggu lagi.” Tanpa perlawanan, sang karyawan pun pulang.

Satu minggu kemudian karyawan itu datang kembali ke guru pertapa. Merasa tidak kuat lagi, ia pun akhirnya curhat kepada sang guru. “Guru, saya tidak sanggup lagi. Rasanya seperti mau mati. Hewan-hewan tersebut membuat kegaduhan yang bukan main. Kotorannya tersebar di mana-mana. Ampun guru, jangan siksa saya lagi. Bebaskan saya dari penderitaan ini…”

“Baiklah, sekarang keluarkan ayam dari rumahmu lalu kembali lagi satu minggu kemudian.” Terbersit sesimpul kecil senyuman di wajah karyawan itu. Dia pun mengucapkan terima kasih kepada guru, dan bergegas pulang.

Satu minggu kemudian karyawan itu datang kembali dengan raut muka yang lebih ceria. “Baiklah, sekarang keluarkan kambing dari rumahmu lalu kembalilah satu minggu kemudian”. Tak dapat wajahnya menyembunyikan pendar kegembiraan mendengarkan perintah tersebut.

“Baiklah, sekarang kamu bisa keluarkan sapi dari rumahmu. Kembali lagi ke sini satu minggu lagi”. Tampak senyumannya mengembang lebar.

Tepat satu minggu kemudian, karyawan itu kembali menemui guru bijak. “Terima kasih banyak, sekarang hidup saya jauh lebih tenang dan lebih baik. Terima kasih sekali lagi atas saran dan bantuannya, Guru.” Ujar karyawan tersebut dengan mata berbinar-binar…

==========================================================================

Kurang lebih begitulah cerita dari buku yang dulu pernah saya baca tapi lupa judulnya karena sudah kelewat lama. Walau kata-katanya tidak persis sama, kira-kira ide yang ingin disampaikan tetap sama.

Moral cerita yang bisa diambil tentunya adalah bahwa kesusahan itu sebenarnya cuma keadaan pikiran kita saja. Secara fisik, tidak ada yang berubah dari kondisi karyawan tersebut sebelum dan sesudah dia menjalani “pelatihan” dari sang guru. Rumah yang ditinggalinya masih mempunyai ukuran yang sama, dan ditinggali oleh orang-orang yang sama juga. Yang berbeda adalah kondisi mental atau pikiran dari karyawan itu.

Saya pribadi punya interpretasi yang sedikit berbeda dari cerita di atas. Kalau menurut saya, intinya adalah tantangan. Kalau kita merasa kondisi kita susah, berarti kita bisa menantang diri kita untuk mengerjakan hal yang lebih sulit lagi. Sebagai contoh, kalau kuliah 18 SKS terasa susah, maka coba ambil 21 SKS. Yang 18 SKS tidak akan terasa susah lagi. 21 SKS kewalahan? Coba ambil 24.

Puasa 14 jam bikin lapar dan haus? Coba puasa 20 jam sambil olahraga berat sorenya. Bawa 1 galon aqua terasa berat? Coba bawa 2 galon. Pasti yang 1 galon akan terasa ringan. Dan terkadang kita akan terkejut melihat apa yang sebenarnya bisa kita raih.

Salam super